Tampilkan postingan dengan label CATATAN SPIRITUAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CATATAN SPIRITUAL. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Maret 2018

Mencari “Rumah” yang Hilang

Apa jadianya jika kita tiba-tiba ditidurkan pada hari ini, lalu dibangunkan lagi pada  lima atau sepuluh tahun kemudian? Mungkin ini hal yang tepat untuk menggambarkan kehidupan seorang perantau yang selama perantauannya jarang sekali atau bahkan tak pernah sekalipun mudik ke rumah untuk menengok kampungnya.

Ketika ia pulang, akan ia dapati banyak perubahan dan perbedaan yang didapati. Terutama sekali bila menyangkut hukum “patah tumbuh hilang berganti”, dimana yang patah akan tumbuh dan yang hilang akan berganti. Orang - orang yang dulu masih paruh baya kini beranjak menua, yang dulu sehat sentosa ternyata sudah meninggal dunia, yang dulu masih kecil mungil ternyata sudah besar dan dewasa, yang dulu masih bayi hijau sekarang sudah bocah yang mulai tumbuh remaja.

Tak hanya pada orang-orang yang kita amati, tapi juga pada orang-orang yang mengamati kita. Ada yang tetap ingat, sambil ragu-ragu kemudian tersenyum meyapa, ada yang sungguh-sungguh lupa tak ingat siapa kita. Kita yang dulu masih pucuk daun hijau mulai mentransformasikan diri makin membiru. Situasi asing benar-benar akan kita dapati jika seperti tertidur lalu tiba-tiba terbangun selama perantauannya itu. Dan waktu yang dipergunakan merantau selama itu, terasa hanya sebuah perjalanan mimpi saja, perjalanan mimpi yang sedikit banyak merubah kepribadian kita.

Coba sekali saja kita pikirkan, kalau saja saat kita ditidurkan itu tidak untuk dibangunkan lagi dalam lima atau sepuluh tahun kedepan. Tapi tidur untuk selama-lamanya. Ada berapa orang yang masih ingat tentang kita, tentang hidup kita? Jika memang yang bersedia mengingat itu masih ada, hitung ada berapa diantara yang masih mau mengingat itu? Sudikah ia berkirim do’a ke pusaramu? Satu, dua, tiga. Tak yakin bisa lebih dari itu, ini kalau keluarga tidak masuk hitungan.

Melongok pada fakta ini, seyogyanya manusia itu memikirkan tiga hal yang wajib diperbuatnya selama ia hidup. Kewajiban itu cuma satu. Ya, satu saja. Membangun investasi akherat dengan amal zariah. Sedang amal zariyah itu hanya bisa dilakukan dengan tiga jenis ibadah. Pertama ilmu yeng bermanfaat, kedua do’a anak dan keturunan yang soleh dan solehah, dan amal jariyah dari amalan dan sedekah yang disumbangkan selagi masih bernafas dan menapak tilas di atas bumi manusia ini. Maka tiadalah merugi orang-orang yang selama hidup mengoptimalkan waktunya hanya untuk mengurusi tiga macam hal ini saja. Sungguh, amat beruntunglah orang itu.

Manusia yang terbiasa hidup di perantauan pasti merasakan satu hal, hidup dimana saja itu sama saja. Sama-sama masih berpijak dimuka bumi yang sama, manusia-manusianya pula, meski dengan wajah dan bentuk rupa yang berbeda-beda tapi watak sifatnya pada dasarnya sama saja. Maka wajarlah, jika seorang perantau yang lama merantau kemudian pulang dan ia kemudian merasa asing dengan kampungnya. Rumah yang sejatinya rumah bukanlah yang ada di bumi ini. Apa yang orang-orang Jawa sebut dengan urip mung mampir ngombe itu betul. Tidak ada rumah di kefanaan dunia ini. Rumah ada setelah ruh melepas jasad, setelah hilangnya nyawa sebagai pertalian keduanya.

Mencari “rumah” yang hilang tak ubahnya seperti mencari ketenangan hidup yang hilang,  ketentraman hidup yang hilang, kebahagiaan hidup yang hilang, dengan mencari kegairahan hidup yang redup. Nyala itu hanya bisa dikobarkan lagi, bila nurani dipancari lagi sinar gilang-gemilangnya. Di situlah sumber suka cita berasal, sumber duka cita bermula. Maka ketahuilah, rumah itu tidak hilang. Hanya saja, akal fikir manusia kerap mengaburkan pandangan mata hatinya. Sampai-sampai ia dibuat buta, bahkan dibuat lupa, dimana rumah yang jadi istananya berada. (Ali Ridwan, 28/03/18)

Minggu, 15 Oktober 2017

Mahakecil Manusia di Mata Semesta

 
Tahukah kamu? Kalau ukuran matahari itu diperkecil seukuran debu, maka luas alam jagad raya ini diperkirakan luasnya adalah lima kali luas wilayah Indonesia. Pra kiraan itu bahkan bisa lebih luas lagi.

Itu artinya, di alam jagad raya ini, bumi yang kita pijaki ini, matahari yang menjadi titik revolusi bumi kita ini, ternyata tidak lebih deri sekedar butiran debu yang betebaran di hamparan jagat raya yang luar biasa mahaluasnya ini. Di mata semesta raya, matahari dan planet-planet yang mengitarinya, kurang lebih seperti unsur-unsur atom yang diitari oleh partikel-partikel mulekulnya.

Jika di mata semesta raya bintang terang bernama matahari beserta planet-planet yang mengitarinya sudah seperti butiran-butiran debu yang melayang-layang di udara, maka kita manusia ibaratnya tak lebih dari sekedar mikroba-mikroba yang numpang hidup di pelatarannya.

Bumi sudah seperti debu, manusia sudah seperti kuman, bagaimana kuman yang menempel di badan kita. Mikroorganisme yang sekecil itu, dan alam jagat raya yang seluas itu. Sungguh, betapa banyak bidang ilmu yang harus kita pelajari untuk memahami itu semua secara lebih mendalam.

Bila matahari kita umpamakan seperti debu yang melayang-layang di hamparan jagad raya yang luasnya lima kali luas Indonesia, artinya di luaran sana ada milyaran bahkan mungkin triliunan matahari-matahari lainnya dengan planet-planet lain yang mungkin juga ada planet yang sama seperti bumi.

Tahukah kamu? Satu matahari dengan lingkup planet yang mengitarinya ini disebut galaksi. Planet-planet yang mengitari matahari termasuk bumi berada di satu zona galaksi yang disebut dengan Galaksi Bimasakti, sedangkan tetangga terdekatnya adalah Galaksi Andromeda.

Diketahui, di Galaksi Andromeda ini ada bintang besar mirip matahari dengan planet-planet kecil yang mengitarinya. Tentu selain Galaksi Andromeda, ada banyak galaksi-galaksi lain yang belum sempat dinamai dan belum sempat terjelajahi, karena keterbatasan tekhnologi.

Semua penelitian itu masih sebatas dilakukan oleh satelit. Belum ada astronot yang bisa pergi sampai sejauh itu. Paling banter astronot menjelajah luar angkasa hanya sampai Mars, planet terdekat dari bumi. Satelit sekalipun, belum ada yang orbitnya sampai keluar dari zona di Galaksi Bimasakti.

Tahukah kamu? Jarak dari satu galaksi ke galaksi lain. Misal dari Galaksi Bimasakti ke Galaksi Andromeda, kalau mau ke sana butuh waktu tempuh sekitar 500 tahun dengan kecepatan cahaya. Ingat ya, kecepatan cahaya. Di bumi sampai saat ini, belum ada seorang ilmuwan pun yang menemukan sebuah kendaraan dengan kecepatan cahaya, kalau kecepatan suara sudah ada.

Bayangkan perbandingannya, jarak dari Galaksi Bimasakti ke Galaksi Andromeda saja 500 tahun cahaya, atau lebih dari 500 tahun kalau pakai kecepatan suara, setidaknya bari itu teknologi yang ada saat ini. Bayangkan perbandingannya. Butuh berapa generasi dari rata-rata usia manusia supaya bisa sampai ke galaksi tetatangga itu.  Itu kalau ke galaksi tetangga, bagaimana kalau seumpama galaksi kita ini adanya di Aceh, dan kita mau ke galaksi yang letaknya ada di Merauke.

Sekecil itukah bumi kita, lalu sekecil apakah kita ini?

Jika ada banyak matahari di jagat raya ini, tentu juga pasti ada banyak planet yang kemungkinan sama seperti bumi kita ini. Ada unsur airnya (H2O), ada unsur udaranya (O2), dan semacamnya. Pertanyaanya, adakah makhluk lain selain di bumi yang menghidupi planet-planet yang mirip planet bumi itu?

Pada intinya, ciri-ciri planet layak huni itu ada unsur air di planetnya. Tentu itu hanya ada di planet yang tidak terlalu dingin dan tak terlalu panas. Sebab air akan membeku kalau dingin dan menguap kalau panas.

Adakah manusia lain (alien) yang hidup dari planet mirip bumi dari galaksi tetangga? Kalaupun ada, kita manusia bumi kemungkinan untuk beretemu dengan alien-alien itu sangat kecil sekali. Sebab usia manusia terlalu pendek untuk menjangkau galaksi terdekatnya, bahkan kalau manusi sukses menciptakan kendaraan dengan kecepatan cahaya sekalipun.

Melihat fakta ini, harusnya manusia di bumi itu tak perlu bertikai satu sama lain, hanya karena urusan sepele. Manusia di bumi sejatinya adalah satu koloni yang bersaudara, satu koloni yang sedang menumpang di satu pesawat antariksa berupa bongkahan partikel raksasa berbentuk bulat yang bernama planet bumi.

Yahh, sudah sedemikan majunya perkembangan ilmu astronomi di luaran sana. Sedih rasanya kalau kita di Indonesia malah memperdebatkan hal yang sangat dasar sekali. Apakah bumi itu bulat atau datar? Hahaa.. (Ali Ridwan, 15/10/17)

Sabtu, 30 September 2017

Cinta Suci Aiman & Ningsih (Cerpen, Berdasar Kisah Nyata)

 
“Tiiin... tiiinnn.... tiiinnn... tiiiinnn..... ” Terdengar suara bel motor Mega Pro  seakan sedang menjerit-jerit.  “Sayuuur, sayuuuur, sayuuuuur.. Sayurnya buu.. Sayurrr..” Teriakan lantang pemuda itu menawarkan sayur dagangan di gerobak yang berada di boncengan motornya, motor YANG dimodif sedemikian rupa sehingga sangat cocok dengan medan pegunungan.

Pemuda penjual sayur keliling bernama Aiman itu menjajakan aneka dagangan seperti sayur-sayuranan segar, tahu dan tempe, bumbu-bumbu dapur, es lilin, jajanan pasar, kerupuk, sampai roti-rotian. Kendati berpropesi sebagi pedagang sayur keliling, itu bukanlah kegiatan utama dari keseharian seorang Aiman. Keberadaan Aiman di sebuah desa dari lereng Gunung Lawu ini karena statusnya sebagai seorang santri yang sedang ngalap ilmu di sebuah pondok salaf pimpinan Kyai M. Abdullah, atau lebih akrab disapa Kyai Dullah.

Pondok pesantren tradisional binaan Kyai Dullah ini adalah pondok pesantren semi modern, dimana selain ilmu-ilmu agama yang diajarkan, ada juga pengetahuan-pengetahuan umum. Di Pondok Pesantren Miftahul Jannah yang berdiri di bawah naungan Yayasan Darul Iman ini juga memiliki sekolah umum setingkat dengan SMP dan SMA.

Di Ponpes Miftahul Jannah ini, Kyai Dullah tidak hanya menerima santri dari anak-anak yang masih SMP atau SMA, tapi juga dari kalangan umum, atau para pemuda atau remaja yang telah lulus SMA di luar pondok. Aiman adalah seorang pemuda yang datang ke pondok dan melamar menjadi santri setelah ia lulus SMA dan sempat bekerja sebagai kuli bangunan.

Sewaktu masih SMA, di kampungnya di Jogja sana Aiman senang sekali membantu ayahnya berjualan sayur di pasar. Rupa-rupanya, keahliannya yang tak sengaja diperoleh dari ayahnya semasa ia SMA ini sangat berguna bagi pondok tempatnya mengalap ilmu sekarang ini.

Dulunya, Pondok Pesantren Miftahul Jannah adalah pondok pesantren tradisional biasa. Supaya tidak tergerus oleh kamajuan zaman, Kyai Dullah kemudian berinisiatif meningkatkan status pondok menjadi pondok semi modern, dengan harapan semoga kelak bisa menjadi pondok modern yang profesional dan lebih berdaya saing lagi.

Bertebarannya sekolah-sekolah umum yang lebih murah dan mungkin dengan kualitas yang lebih bermutu di masyarakat membuat sekolah rintisan di pondok bukan perkara yang mudah.  Untuk bisa bersaing, selain harus mendatangkan guru yang berkualitas, perlengkapan dan fasilitas yang lebih memadai, juga harus dengan biaya yang tidak membebani alias semurah mungkin. Terlepas dari itu, satu yang paling digaungkan dari sekolah umum di pondok adalah pendidikan akhlak melalui bimbingan agama langsung dari seorang kyai yang tidak ditawarkan oleh sekolah-sekolah umum di luaran sana.

Kehadiran Aiman sebagai tukang sayur sejatinya bukanlah kemauannya, tapi juga bukan karena permintaan dari pihak pondok, apalagi perintah dari Kyai Dullah. Panggilan jihad sebagai salah satu pondasi penopang finansial pondok itu muncul begitu saja. Aiman yang kurang maksimal bila mondok dan bekerja seperti rekan-rekan santri sebayanya.

Beginilah sebenarnya keadaan dari Pondok Pesantren Miftahul Jannah, jika santri-santri yang masih sekolah, kegiatan mereka adalah belajar dan mengaji. Sementara santri-santri yang sudah tidak bersekolah seperti Aiman, kegiatannya selain mengaji adalah bekerja membantu pondok.

Aiman tidak punya keahlian mengurus kebun cengkeh, tidak bisa mengurus ternak baik sapi ataupun kambing, tidak bisa bertani, juga tidak pandai mengurus koperasi. Tapi Aiman punya tekad untuk tetap bisa berkontribusi untuk pondok, sampai muncullah ide itu, mondok nyambi dagang. Sehingga keuntungan dari hasil berdagang sayurnya itu tidak seratus persen untuknya. Keuntungannya dibagi dua, sebagian untuk pondok, dan sebagian lagi boleh ia kantongi sendiri. Sebuah keputusan yang bijak dari Kyai Dullah. Apalagi keuntungan yang diperolah Aiman tidak tergolong kecil, Rp 300.000,- per hari, sedangkan upah buruh tani hanya Rp 50.000,-. Kiprah Aiman jelas sangat membantu keuangan pondok, utamanya untuk memenuhi kebutuhan dapur pesantren.

Keuntungan yang menggiurkan itu, boleh dibilang sebanding dengan beban kerja yang harus dipikul oleh Aiman. Tidak seperti santri-santri lainnya, Aiman harus kulakan sayur di pasar besar pada jam dua malam. Resikonya ia tidak bisa ikut mujadah sebelum shubuh, dan jelas tak ikut pengajian rutin kajian dan tafsir Al Quran setiap ba’da shubuh. Setelah menata dagangannya di keranjang motornya kemudian ia menjualnya dari kampung ke kampung di lereng Gunung Lawu itu, naik turun gunung, melewati jalanan berbatu-batu, tajam dan curam. Aiman berjualan sampai siang hari, lalu istirahat tidur siang. Setelah sore ia mengaji, maghrib dzikiran, istirahat setelah isya, terbangun untuk kiyamulail, jam dua malam sudah harus kulakan ke pasar besar lagi.

Aiman begitu bersemangat dalam menjalai profesinya sebagai tukang sayur keliling, semangat bisa membantu meringankan beban finansial pondok adalah motivasi utamanya. Motivasi itu semakin bertambah saat suatu ketika Aiman bertemu dengan seorang gadis belia, masih duduk di kelas 3 SMP. Gadis itu membeli sayur, memasak untuk ayahnya yang hendak ke sawah. Hari pertama bertemu terkesan, hari kedua, ketiga, keempat, makin berkesan. Pemuda bernama Aiman itu akhirnya berkenalan secara baik-baik dengan gadis belia itu.

“Tiap hari belanja sendiri terus. Ibunya kemana?”

“Sudah meninggal mas. Tinggal aku sama ayah seorang diri di rumah..”

“Ohhh.. Maaf, aku tidak tahu hal itu. Eh ya, kita sudah terlalu sering mengobrol akrab, tapi aku belum tau siapa nama kamu?”

“Ah, tidak apa-apa mas. Hmm.. Nama saya Ningsih mas..”

“Saya, Aiman..”

“Salam kenal ya mas..”

“Oh yah, boleh minta no hp kamu?”

“Iya mas. Boleh..”

Sering berbalas pesan lewat sms, betapa terkejutnya Aiman, ternyata gadis itu hendak dijodohkan. Sudah tradisi di salah satu desa lereng Gunung Lawu itu. Gadis lulusan SMP biasanya langsung dinikahkan, katanya gadis di usia segitu biasanya lebih nurut, dan mentalnya belum rusak.

Aiman yang nampak prihatin dengan keadaan ini lantas terpanggil, ia nekat nembung pada Kyai Dullah, tentang maksud dan tujuannya mendaftarkan Ningsih masuk ke pondok sambil sekolah. Aiman bicara baik-baik pada Kyai Dullah, bahwa ia sedang jatuh hati pada seorang gadis belia bernama Ningsih. Aiman hendak bermaksud memondokkan Ningsih sekaligus membiayai sekolah SMA-nya selama nyantri, dan sekolah di pesantren binaan Kyai Dullah itu.

Kyai Dullah menyambut baik niatan santrinya bernama Aiman itu. Namun Kyai Dullah akan membuat kesepakatan rahasia yang hanya boleh diketahui oleh Aiman, Ningsih, Ayah Ningsih, dan Kyai Dullah sendiri.

“Selama Ningsih nyantri di sini nanti, tidak ada yang boleh tahu kalau Ningsih itu akan jadi bakal calon istri kamu. Biarkan Ningsih mondok di pesantren sini seolah-olah tidak ada hubungan spesial apa-apa antara kamu dengan Ningsih. Saya tidak mau melihat kalian ngobrol berdua-dua’an apalagi sampai terlihat seperti orang sedang pacaran” Pesan Kyai Dullah pada Aiman dan Ningsih, saat ayah Ningsih matur hendak memondokkan anaknya di Pondok Pesantren Miftahul Jannah binaan Kyai Dullah itu. 

Lewat perjanjian ini, Aiman dituntut bisa melewati komitment rahasia jangka panjang hingga tiga tahun kedepan. Dan selama tiga tahun ke depan itu, mau tidak mau ujian kesabaran lewat serangkaian cobaan sedikit banyak akan menguji hubungan keduanya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun mulai silih berganti. Ningsih si gadis desa itu makin beranjak remaja. Kecantikannya makin berbinar, inner beauty-nya kian memancar. Mbah Nang, ayah Kyai Dullah yang sepuh tapi masih sehat, kepincut dengan akhlak mulia gadis belia bernama Ningsih itu. Mbah Nang berniat hendak menjodohkan Ningsih dengan cucunya, Gus Syarif, putra pertama Kyai Dullah. Rencana ini semakin mendekati kenyataan saat Gus Syarif ternyata juga menyimpan rasa untuk Ningsih, Gus Syarif tentu sangat senang dan bahagia dengan rencana kakeknya itu.

Kyai Dullah yang mengetahui rencana Mbah Nang itu hanya bisa diam. Memantau dari kejauhan, sudah sejauh mana keseriusan seorang Aiman kepada niat mulianya untuk memondokkan Ningsih di pesantren yang kemudian hendak dipinangnya sebagai istrinya. Dan Aiman, ia tetap tabah dan takdzim pada Kyai Dullah, ia percaya sepenuhnya pada Romo Kyai.

Ujian tidak hanya datang lewat Mbah Nang dan Gus Syarif, seorang santri senior yang menjadi kepala suku di Pondok Pesantren Miftahul Jannah, Kang Jitok juga menaruh hati pada Ningsih dan mengincarnya untuk bisa memperistrinya. Tak jarang Kang Jitok ini bertandang ke rumah Ningsih guna mengambil hati Ayah Ningsih, tapi Ayah Ningsih selalu patuh pada perjanjiannya dengan Kyai Dullah, Ayah Ningsih tetap bungkam perihal perjodohan Ningsih dan Aiman.

Nampaknya, pesona Ningsih sebagai gadis muda itu sudah terdengar sampai ke luar pondok. Kang Jazuli, seorang pemuda kampung yang disegani, karena posisinya sebagai ketua paguyuban silat, juga mengincar Ningsih untuk dijadikan istri. Sementara Aiman tetap bungkam, ia secara diam-diam sering berhubungan dengan Ningsih. Meski berlagak tak kenal saat di muka umum, sebenarnya Aiman sering berhubungan dengan Ningsih melalui surat - surat cinta yang ia selipkan di celah-celah dinding, sebuah kotak surat rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Hanya ini komunikasi rahasia yang bisa dilakukan Aiman dan Ningsih.

Di Pondok, Kyai Dullah memang melarang santrinya yang masih sekolah untuk membawa alat komunikasi seperti handphone. Jika ada keperluan mendadak yang mengharuskan Aiman dan Ningsih berbicara secara langsung, Kyai Dullah akan mengundang keduanya, duduk bertiga di ruang tamu, dan manyilahkan keduanya bicara seperlunya saja. Sesekali Kyai Dullah membiarkan keduanya mengobrol sesaat, Kyai Dullah meninggalkan keduanya dengan berpura-pura ke dapur barang sebentar mengambil makanan atau minuman.

Rayuan bertubi-tubi dari Mbah Nang dengan Gus Syarif, dari Kang Jitok, juga Kang Jazuli sempat meruntuhkan pendirian Ningsih. Telah beredar gosip di Pondok kalau Ningsih sudah menjalin hubungan dengan Kang Jitok, sampai Kang Jitok pun dimusuhi oleh Gus Syarif dan pemuda sekampung karena provokasi Kang Jazuli. Mendengar kabar ini Aiman sempat nyaris putus asa, apalagi akhir-akhir ini Ningsih tidak lagi membalas surat-suratnya yang biasa ia selipkan di tempat rahasia yang sudah ia sepakati bersama.

Setelah Aiman mengadu pada Kyai Dullah, perihal kegelisahan hatinya itu. Kyai Dullah kemudian memanggil Ningsih ke ruang tamu. Kyai Dullah kembali mengingatkan kepada Ningsih dan Aiman, perihal kesepakatan rahasianya dulu. Melihat fakta bahwa Ningsih nampaknya sudah mulai termakan rayuan Kang Jitok, Kyai Dullah kemudian menegur Ningsih “Kalau kamu mau mengingkari perjanjian awalmu saat pertama mau mondok si sini, silahkan kamu cari guru lain yang selain aku...” Ningsih lalu menitihkan air matanya, Bu Nyai yang datang saat menyuguhkan minuman lalu mengusap air mata penyesalan dari Ningsih itu. Tak lama kemudian Kyai Dullah mempersilahkan Aiman kembali ke asrama putra dan mempersilahkan Ningsih kembali ke asrama putri dengan pesan supaya keduanya tetap berpegang teguh pada perjanjian rahasia itu.

Dua setengah tahun berlalu, secara mengejutkan Kyai Dullah mengajak Aiman dan kedua orang tuanya untuk bertandang ke rumah orang tua Ningsih, Kyai Dullah secara resmi akan melamar Ningsih untuk diperistri oleh salah satu santrinya yang bernama Aiman. Ayah Ningsih yang sedari awal selalu berkomitment dengan perjanjian rahasia itu menyambut lamaran Aiman yang diwakili oleh Kyai Dullah itu dengan penuh syukur dan suka cita. Prosesi lamaran pun berjalan lancar dan aman.

Setelah lamaran itu terjadi, bukannya kebahagiaan yang didapat Aiman, tapi bencana. Lamaran itu justru malah membuat Aiman semakin terpojok. Mbah Nang yang bersekongkol dengan Kang Jitok, sepakat memusuhi Aiman. Belum lagi orang-orang kampung yang termakan gosip provokasi dari Kang Jazuli, ibu-ibu yang biasa berlangganan sayur pada Aiman, kini hanya beberapa yang masih setia. Tidak jarang sore hari saat Aiman pulang ke Pondok, dagangan di gerobak motornya masih utuh 80%. Bahkan Kang Jazuli tidak sesekali mencegat Aiman saat keliling berjualan dan menantangnya untuk berduel.

Keadaan ini membuat Aiman nyaris berputus asa kembali, ia lalu berkomunikasi dengan kedua orang tuanya. Merasa kehormatannya sudah jatuh karena fitnah yang terlanjur merajalela, yang Aiman fikirkan adalah nama baik pondok, apalagi salah satu gosip yang beredar mengatakan kalau lamaran Kyai Dullah pada orang tua Ningsih untuk Aiman itu karena Ningsih telah hamil di luar nikah, dan secara diam-diam Aiman lah yang menghamilinya. Menghamili Ningsih dengan cara tidak jantan karena dilakukan dengan cara menikung Gus Syarif, Kang Jitok, dan Kang Jazuli dari belakang. Tapi orang tua Aiman tetap mendukung putranya, mereka berpesan pada Aiman supaya tetap takdzim dan manut dengan apapun keputusan Kyai Dullah. Fitnah itu akan luruh dengan sendirinya, jika apa yang difitnahkan ternyata sama sekali tidak benar.

Melihat situasi yang makin tak terkondisikan Kang Jitok secara khusus menghadap Kyai Dullah seorang diri, guna menengadukan kelakuan Aiman yang sudah bikim gaduh itu, tidak hanya di pondok tapi juga ke penjuru kampung di lereng Gunung Lawu itu. Kyai Dullah dengan sabar menjelaskan pada Jitok duduk perkaranya, Si Kepala Suku pondok itu pun akhirnya paham. Gus Syarif yang kebetulan sedang berada di rumah, kemudian juga diberikan penjelasan oleh ayahnya, ia pun akhirnya paham dan bersedia mengalah. Kehilangan banyak pendukung, Mbah Nang semakin tak berdaya saat berniat hendak memojokkan Aiman, pelan pelan ia pun bisa menerima kenyataan itu.

Setelah kelulusan Ningsih dari bangku SMA, pernikahan Aiman dan Ningsih pun dilakukan. Akad dan resepsi dilaksanakan di mampelai wanita. Hadir di pernikahan kedua orang tua mampelai, dan tentunya Kyai Dullah sebagai nasehat perkawinan. Pada sambutan di resepsi inilah kesempatan Kyai Dullah untuk meluruskan, menceritakan sebenarnya apa yang terjadi dengan cinta Aiman pada Ningsih. Tamu undangan akhirnya mengerti, ternyata gosip dan fitnah yang beredar di masyarakat selama ini salah dan tidak benar adanya. Propoganda Kang Jazuli sudah pasti akan terlupakan dengan sendirinya.

Sekarang, Aiman dan Ningsih yang sudah menjadi sepasang suami istri ini tinggal di koperasi milik pondok. Ningsih bertugas mengurusi koperasi dan Aiman tetap berjualan sayur seperti biasanya. Kedua alumni pondok yang sudah menikah ini akan tetap mengabdikan hidupnya untuk kemajuan pondok. Ke depannya, Aiman dan Ningsih akan diberi tugas mengatur kestabilan keuangan pondok dari semua bidang usaha yang berdiri di bawah Yayasan Darul Iman dan Pondok Pesantren Miftahul Jannah, di lereng Gunung Lawu itu. (Ali Ridwan, 29/09/17)