Tampilkan postingan dengan label SOSIAL POLITIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSIAL POLITIK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 September 2017

Antara G30S/PKI, John F Kennedi, Soekarno, dan Tambang Emas di Papua

 
Pernah nonton film The Hobbit? Ada satu pernyataan yang saya suka dari film ini. Melimpahnya cadangan emas atau logam mulia di suatu negeri, bisa jadi  bukan mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi warganya, sebaliknya justru akan menjadi bencana bagi penduduknya! Gunung emas di Papua adalah salah satu contohnya.

Menilik pada fakta sejarah, pada masa pemerintahan John F Kennedi hubungan Indonesia dan Amerika Serikat begitu romantis. Setelah Soekarno berhasil melobi Rusia untuk membeli peralatan tempur dengan berhutang, guna mengusir kependudukan Belanda yang masih bercokol di Bumi Cenderawasih, Irian Barat. Dan aksi militer yang diberi nama Operasi Trikora itu akhirnya sukses memaksa Belanda berunding di PBB, dalam bernegosiasi dengan Belanda lewat tekanan USA pulalah akhirnya Irian Jaya kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Hal ini menjadi bencana, setelah CIA (Central Intelegent Amerika) mengetahui ternyata di Irian Jaya terdapat gunung emas yang melimpah ruah. Freeport yang nyaris bangkrut karena invasi USA di Kuba mendapat perlawanan keras dari Fidel Castro. Di sini terjadil tawar menawar dan terjalin sebuah kesepakatan rahasia antara Freeport dan pimpinan CIA, Allan Dulles.

Allan Dulles menyadari, gunung emas di Papua akan sulit ditambang kalau Soekarno yang seorang nasionalis tulen itu masih berkuasa di Indonesia. Allan Dulles juga paham, menjatuhkan Soekarno akan sulit mengingat kedekatan Soekarno dan John F Kenedy. Dulles melalui CIA mulai melakukan misi rahasianya, membunuh John F Kennedy dan Soekarno sekaligus. Misi membunuh John F Kennedy berhasil, tapi Soekarno setelah melalui tujuh kali percobaan pembunuhan, semuanya gagal.

Wafatnya John F Kennedy telah merenggangkan hubungan bilateral antara Indonesia dan USA, puncaknya setelah Amerika menyetujui bergabungnya negara boneka bentukan Inggris yaitu Malaysia sebagai bagian dari anggota PBB (Perserikatan Bangsa – Bangsa). Mengetahui ini, Soekarno marah besar dan mengambil sikap tegas Indonesia keluar dari keanggotaan di PBB.

Keluarnya Indonesia dari PBB cukup berdampak pada eksistensi Indonesia di dunia internasional. Indonesia jadi cendrung dekat dengan negara-negara komunis seperti China, Rusia, bahkan Korut. Ini salah satu faktor mengapa pada masa itu PKI (Partai Komunis Indonesia) berkembang pesat di Indonesia.

 Sebetulnya ada faktor lain mengapa PKI tumbuh subur pada masa itu. Soekarno yang terlalu terobsesi dengan kariernya di dunia internasional sebagai pimpinan negara-negara non blok, dan Soekarno yang lebih suka membelanjakan anggaran negara untuk peralatan perang, sehingga pekonomian negara jatuh terpuruk. Harga pangan melambung, rakyat banyak yang kelaparan. (Kata mbah saya, pada masa paceklik ini untuk membeli 1 kg dedak atau ampas padi untuk maknan pokok, sampai harus jual dua ekor sapi terlebih dulu).

Saat genting seperti itu, PKI hadir dengan banyak memberikan bantuan. Entah itu sembako, benih padi, pupuk, dan semacamnya. Tak lupa PKI juga mendata nama-nama setiap penduduk yang menerima bantuan dari partai komunis ini. Jadi boleh di bilang, rakyat yang menerima bantuan sosial dari PKI sebetulnya belum tentu anggota PKI, apalagi sampai berpaham komunis.

Allan  Dulles, melihat celah ini sebagai peluang. Konflik antara kaum nasionalis (tentara), agamis (umat islam, kristen, dll), dan komunis (PKI) yang coba ditengahi Soekarno dengan NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis) ternyata gagal menjadi solusi. Sehingga ada kemungkinan antara Dulles dan Soeharto lalu menjalin sebuah kesepakatan rahasia.

Sekali dayung dua pulau terlampaui, dengan bantuan Dulles melalui CIA Soeharto sukses menumbangkan Soekarno dengan senjata Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) dan dengan rekayasa G30S/PKI yang menumbalkan jenderal-jenderal besar yang berpotensi jadi pesaingnya untuk jadi penguasa tunggal di negeri ini. Misi rahasia inipun berhasil, Soeharto dapat kekuasaan dan Dulles dapat royalti dari Freeport yang akhirnya bisa menambang emas di Papua.

Fakta sejarah mencatat, demi tambang emas di Papua ini, tiga juta rakyat tak berdosa, tiga juta penduduk yang namanya terdata menerima bantuan sosial dari PKI, akan langsung dicap PKI dan langsung dibunuh dengan kejam, mereka dibunuh seperti membunuh hewan dan dikuburkan juga seperti hewan  oleh kaum Agamis yang mendapat bekingan dari ABRI (kaum nasionalis).

Bahkan, bukan hanya tiga juta rakyat tak berdoa yang menjadi keserakahan seorang manusia yang haus pada harta berupa logam mulia. Tapi juga pemimpin sebaik John F Kennedy yang tewas tertembak, Soekarno yang mati dibunuh sepi (sakit ginjal parah, di dikurung di rumah tahanan, dan hanya dirawat oleh seorang dokter hewan. Soekarno juga tidak boleh membaca koran, mendengarkan radio, dan tidak boleh bertemu sama siapapun), hingga tujuh jenderal baik-baik yang katanya jadi korban kekejaman PKI. Semua dikorbankan hanya demi satu tujuan, tambang emas di Papua.

Menyedihkan, tapi beginilah faktanya. Semenjak masa kerajaan dulu, bangsa kita memang paling mudah untuk diprovokasi dan diadu domba. Ada baiknya, setiap 30 September bukan hanya kita peringati sebagai hari pengkhianatan PKI yang ingin mengganti ideologi negara, tapi juga kita jadikan sebagai hari perenungan, bahwa ternyata sampai sekarang ini kedewasaan masyarakat kita dalam menanggapi isu propoganda masih jauh dari kata dewasa. (Ali Ridwan, 30/09/17)

Rabu, 30 November 2016

Sebuah “Pertengkaran”, Jawa vs Papua (Cerita Pendek)

Di suatu sore yang hangat, di kompleks toko buku Bu Sri (Buku Sriwedari), Solo. Jabal sedang menemani kawan satu kostnya belanja di situ. Jabal dan Akmal adalah seorang pacinta seni dan sejarah. Meski sama-sama berdarah Jawa, tapi Jabal lama tinggal di Pegunungan Arfak, Papua Barat. Jabal besar dan tumbuh di Manokwari sebelum akhirnya bisa kuliah di Solo, Jawa Tengah. Di Solo ini kemudian Jabal berkawan dekat dengan Akmal yang asli Semarang, besar di Semarang, dan sekolah dari SD sampai SMA di Semarang, kemudian kuliah dan satu fakultas di UNS Solo dengan Jabal.

Di tengah terik mentari siang, berdiri di emperan sebuah toko buku, Akmal tampak sedang membolak-balik cover buku tentang sejarah kembalinya Papua Barat ke Pangkuan ibu pertiwi. “Mal, buku ini sepertinya cocok buat kamu. Biar muka mu muka jawa, tapi kamu kan sudah jadi orang Papua”

“Aku sudah tidak butuh buku semacam itu lagi Mal, aku lebih tertarik tentang buku-buku macam begini” Jabal mememerkan buku di pegangan tangannya, buku tebal bertuliskan Babat Tanah Jawa.

“Kamu tidak mau kenal sajarah kampung mu?”

“Justru karena aku sudah tahu yang sebenarnya. Aku baca sinopsisnya saja sudah tahu apa itu isinya..”

“Ohhh...” Akmal mendesir sebentar lalu melempar tanya lagi “Beberapa bulan lalu waktu lagi di Jogja, aku lihat anak-anak Papua bikin rusuh di sana, minta pelurusan sejarah di Papua, minta referendum, terus minta merdeka. Ada yang salah kah dengan buku-buku sejarah kita selama ini?”

“Ah, itu propoganda saja..”

“Propoganda bagaimana maksudnya?”

“Semua orang juga tahu. Papua itu dulunya terbagi dua, Papua Timur dan Papua Barat. Papua Timur dikuasai Inggris dan Papua Barat dikuasai Belanda. Papua Timur kemudian berubah nama jadi Papua Nugini dan bagian barat bernama Papua Barat yang setelah Indonesia merdeka kemudian berganti nama jadi Irian Barat, lalu setelah lepas dari cengkraman Belanda dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi kemudian berganti nama lagi jadi Irian Jaya. Sejarah Papua sudah jelas, jaman kerajaan Irian Barat itu masuk wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate, Irian Barat juga adalah bekas jajahan Belanda. Wilayah Indonesia adalah semua bekas jajahan Belanda tanpa terkecuali. Kamu pasti tahulah itu, kenapa Soekarno gagal mengganyang Malaysia dan sampai akhirnya Timor Timur bisa sampai lepas dari NKRI? Karena Malaysia jajahan Inggris dan Timor Timur adalah jajahan Portugis. Indonesia tidak punya dasar hukum yang kuat. Beda dengan Irian Barat yang secara de fakto dan de jure adalah sah masuk bagian dari wilayah NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia”

“Aku tahu kalau soal itu. Tidak perlu kamu ceritakan lagi ke aku..”

“Lalu?”

“Aku juga sering dengar soal isu-isu rasis soal Melayu dan Melanesia”

“Malaysia Melayu, tapi bukan NKRI. Papua Nugini juga Melanesia, tapi bukan NKRI. Indonesia bukan negara melayu juga bukan negara melanesia. Itu kenapa kita pakai ideologi Pancasila.”

“Terus, apa yang mendasari mereka ingin sekali merdeka. Tidak main-main loh ini, pergerakan dipelopori oleh kaum muda, anak kuliahan, kaum intelektual. Pasti ada yang salah dengan Papua..”

“Kalau menurut aku cuma ada dua permasalahannya. Ketidakadilan yang menyebabkan kesenjangan. Itu saja!”

“Setuju juga sih aku..” Akmal mengangguk-angguk sambil membolak-balik buku yang hendak dibelinya. Tak tahan lama-lama berdiam, Akmal kembali melempar tanya lagi. “Eh Bal, menurutmu enak mana? Enak tinggal di Papua apa enak tinggal di Jawa?

“Buat aku tinggal dimana saja itu sama saja Mal. Tapi Papua, sudah seperti rumah buat aku. Aku besar di sana. Cerita masa kecilku ada di sana. Aku punya tanggung jawab di sana, panggilan hidupku ada di sana”

“Boleh lah, jawaban idealismu itu. Terus menurut kamu, apa yang jadi pembeda antara Jawa dan Papua?”

“Yang jelas Mal, kalau di Papua harga BBM melambung sampai Rp 25.000,- per liter bahkan kadang ada yang sampai Rp 50.000,- dan Rp 100.000,- perliter, itu biasa. Tapi di Jawa, baru wacana naik Rp 200,- saja, gaduhnya sudah seperti anak ayam kehilangan induk”

“Sadis jawabanmu. Kata-katamu juga terlalu kejam. Sadarlah, bukankah kamu sendiri sekarang sedang berada di Jawa”

“Saya di Jawa, karena saya mau mengambil apa yang sudah Jawa ambil dari Papua..”

“Apa yang sudah Jawa ambil dari Papua?” Sebagai orang Jawa yang besar di Jawa, Akmal sedikit tersingung kali ini.

“Kamu, main-mainlah ke Papua. Tinggalah di sana barang setahun atau dua tahun. Supaya kamu bisa menyaksikan sendiri dengan mata kepalamu itu, kalau apa yang sudah Jawa lakukan ke Papua selama ini itu, jahat!” Gaya menjawab Jabal seperti menirukan dialog Cinta saat berbincang dengan Rangga di film Ada Apa dengan Cinta 2.

“Jahat katamu? Jahatnya itu dimana? Coba, tolong diperjelas!” Akmal semakin naik pitamnya.

“Akmal, kamu tahu? Masyarakat pribumi Papua menyebut kita manusia Jawa itu apa? ‘Bangsa Kolonial..’ Lebih tepatnya, bangsa kolonial Negara Kesatuan Republik Indonesia yang hampir setengah abat menjajah tanah Papua. Akmal, tujuh belas tahun aku tinggal di sana. Butuh waktu lebih dari seharian untuk menceritkan semua duduk perkaranya. Biar saya jelenterehkan di sini juga kamu tidak bakal paham duduk perkaranya”

“Okeh, terus sampai sekarang ini, menurut kamu apa Jawa itu masih terlihat sedang menjajah Papua?”

“Bangsa melanesia, orang asli Papua yang merasa berbeda dengan kita orang melayu, sampai saat ini dan mungkin sampai dua atau tiga generasi ke depan, akan tetap punya prasangka yang sama. NKRI adalah bangsa penjajah. Begitu seterusnya selama Jawa bersikap tidak adil kepada Papua”

“Jawabanmu bagus, tapi tidak spesifik, cenderung ambigu. Tapi yang aku heran kenapa selalu Jawa, Jawa lagi, Jawa lagi, dan Jawa lagi yang selalu dipersalahkan. Para pemimpin daerah di Papua sendiri bagaimana? Apa mereka semua sudah amanah?”

“Mal, kamu kenal Soeharto kan. Jendral terkorup itu, sudah berapa periode ia jarah kekayaan negara. Tiga puluh dua Indonesia ini dipimpin oleh kepala negara yang otoriter dan boleh dibilang tidak sepenuhnya amanah. Sepeninggalan Soekarno, setelah tujuh puluh tahun Indonesia merdeka. Baru muncul pemimpin-pemimpin jujur dan udah-mudahan amanah seperti Ahok, Risma, Jokowi, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, dan semoga masih banyak lagi.

“Asal kamu tahu lagi Mal. Tujuh belas tahun aku di Papua, baru aku bisa merasai mulusnya jalan beraspal, terangnya lampu neon, adanya sinyal seluler. Tujuh belas tahun Mal, tujuh belas tahun hidup di Papua tanpa listrik, jalanan yang kalau hujan becek dan  bila panas berdebu, tidak ada itu sinyal HP, apalagi internet. Baru di tahun 2010 kaki aku ini menginjak Tanah Jawa. Alamak, memang brengsek sekali orde baru itu. Jawa saja dibangun, Papua tinggal jadi sapi perah. Papua jadi daerah termiskin dan tertinggal

 “Asal kau tahu lagi Mal. Selama orde baru berkuasa, jarang sekali ada orang asli Papua yang jadi camat sampai bupati dan walikota, semua jabatan dipegang pendatang, semua ‘penjajah’ yang pegang. Baru setelah Otsus berlaku, orang asli Papua bisa pegang jabatan. Secara politik, masyarakat pribumi Papua itu baru merdeka setelah Otsus diberlakukan. Yaah, mungkin pejabat di Papua belum semuanya amanah. Tapi, demokrasi di Papua yang baru seumur jagung itu boleh dikatakan masih jauh lebih baik dibanding ketidak amanahan orde baru saat NKRI masih belia. Semoga kamu paham maksud jawaban aku” 

“Okeh.. Okeeh.. Betul sepertinya memang betul ucapanmu di awal tadi, butuh waktu seharian kalau harus kamu ceritakan semuanya. Sebagai teman yang baik, aku cuma bisa bantu doa. Selamat melanjutkan misi kamu itu. Semoga apa yang kamu bencikan sekarang bisa kamu ambil hikmahnya. Apa yang mau kamu ambil dari Jawa bisa kamu ambil semuanya..”

“Menilik pada ucapanmu yang terakhir itu Mal, terlihat jelas. Apa yang kamu prasangkakan ke aku, itu salah..

“Aku ini masih orang jawa tulen Mal. Ya, walaupun tulang belulangku, darah dan dagingku, tumbuh besar karena tanah air di bumi Papua. Pendek kata, aku masih seorang nasionalis tulen dan aku sangat mencintai Tanah Air Indonesia. Belakangan baru aku pahami kenapa Tuhan membuang aku sampai ke pedalaman Papua. Sebelum akhirnya Tuhan kembali memberikan kesmepatan buat aku untuk kembali singgah ke tanah kelahiran, Tanah Jawa.

“Perlu kamu tahu pula Mal, tanpa kebulatan tekad dan usaha yang kuat sehingga bisnis orang tua aku yang semakin maju. Aku tidak mungkin bisa sampai kuliah ke Jawa. Tapi juga mungkin bukan karena keuletan tekad dan usaha kedua orang tua aku itu sehingga aku bisa ke Jawa. Lebih mungkin karena Papua yang mulai maju karena turunnya dana otsus dari pusat. Dana otsus yang tidak akan pernah ada kalau dulu sekitar 100 aktivis dari Papua tidak menggeruduk istana kemudian mengancam, minta kepada Gusdur supaya Papua bisa merdeka, lepas dari NKRI. Tapi alhamdulillah Mal, Gusdur mendengar suara hati rakyat Papua, sampai akhirnya manusia udik dari pedalaman Papua macam aku begini ini bisa membiayai diri untuk kuliah di Tanah Jawa.”

“Otsus yang penggunaan anggarannya kurang jelas dan banyak dikorupsi itu kamu bilang memberi dampak pada kemajuan Papua? Bukan rahasia umum lagi Bal, kalau kebanyakan pejabat Papua itu lebih suka ke Jakarta nongkrongnya di Alexis, tidak betah lama-lama di Papua, mau menyapa rakyatnya yang tinggal di honai-honai kalau cuma mau Pilkada saja.”

“Bukan cuma di Papua. KKN sudah seperti kanker buat negeri kita ini Mal. Itu tanggung jawab kita bersama, sebagai pemuda kita harus bisa menjadi obat kemo yang paling ampuh untuk menekan pertumbuhan kanker yang mudah-mudahan kanker itu masih di tahap stadium akut.”

“Yaa, aku tahu kalau itu. Tidak usah kamu ceramahin aku”

“Tapi, biar begitu, asal kamu tahu lagi Mal. Luar biasa dampak otsus itu. Andai saja kebijakan ini sudah ada dan deiberlakukan sejak jaman orde baru, saya yakin pekikan ‘Jawa Bangsa Kolonial’ itu mungkin tidak akan pernah terlontar. Dan tuduhanmu tentang kebencianku pada Jawa itu tak akan pernah terucap dari mulutmu itu. Tapi aku tak masalah, aku masih Jawa, aku tak akan marah. Tapi aku tak tahu bagaimana jika kata-kata itu kalau kau ucapkan kepada saudara-saudara kita yang warga pribumi asli. Masyarakat papua itu sudah terlalu sakit hati kepada Jawa. Salah besar kalau aku malah ikut-ikutan membela Jawa. Bisa meruncing konflik horisontal antara pribumi dan pendatang di sana. Jadilah aku, Si Jawa yang cinta Papua ini turut melawan Jawa sendiri.”

“Hhmmm.. Oke.. oke, tadi aku cuma kurang suka aja dengan kata-katamu yang bilang datang ke Jawa mau mengambil apa yang sudah Jawa ambil dari Papua, pernyataan ini terlalu sepihak.”

“Mal, kamu boleh saja menilai aku semau-mau kamu. Tapi perlu kamu catat. Aku dan kamu di sini. bisa melihat Papua dari sudut pandang Jawa, tapi kamu tidak bisa melihat Jawa dari sudut pandang Papua dari sana. Karena itu kenapa aku menawari untuk tinggal di pedalaman Papua sana barang setahun apa dua tahum. Karena tidak cukup hanya sebentar untuk menceritakan semuanya sampai membuat kamu paham dengan kondisi sebenarnya seperti apa. Kamu harus mengalaminya sendiri Mal”

“Oke Bal, Okee.. Lulus kuliah nanti, sebelum aku menikah, kalau aku ke Papua kau wajib neraktir aku jalan-jalan di sana. Bagaimana?”

“Hahahaaa... Pintar sekali kau, bilsang saja kalau niatmu hanya ingin jalan-jalan gratis, tanpa harus membayar seorang tour gaet. Okee. Gampanglah itu, setelah lulus kita nanti, aku tagih lagi ucapanmu ini..”

“Hahaaii.. Siapa takut, lulus juga masih lama. Baru juga semester lima.”

“Satu tahun setengah itu tidak lama Mal”

“Iya juga yah, hmm..”

“Hahahahaa..” Meski sempat berdebat sengit, Jabal dan Akmal tetap berbagi canda sambil mengumbar tawa bersama.

Setelah hening beberapa saat. Jabal membayar untuk buku Babat Tanah Jawa yang diminatinya dan Akmal membayar untuk sebuah novel cinta karya Moammar Emka. Meski sangat peduli kepada isu-isu politik, tapi Akmal adalah pecinta santra sejati, novel cinta sudah seperti makanan pokok baginya. Beda dengan Jabal yang lebih suka buku-buku sejarah dan otobiografi tokoh-tokoh ternama dari orang-orang besar lokal dan mancanegara.

Sudah mendapatkan buku yang dicari. Sebelum pulang, Jabal dan Akmal sepakat untuk berkunjung sebentar ke Gramedia, tak jauh dari kompleks toko buku belakang Taman Sriwedari. Di Gramedia, Jabal berencana membeli buku motivasi dan bisnis terbitan terbaru dari penulis-penulis top Indonesia. Sementara Akmal sekedar ingin melihat-lihat, novel cinta apa saja yang sedang mejeng di rak buku terpopuler dan terlaris di kalangan pemuda saat ini.

Di Gramedia Solo yang kata Akmal lebih mirip museum itu, ia tiba-tiba nyeletuk lagi setelah membaca sampul buku tentang negeri kanguru Australia, Akmal menyinggung perdebatan yang sudah lama lewat tadi. “Jabal, kira-kira orang-orang Papua itu tahu tidak tentang kisah Suku Aborigin, suku asli dari Australia dari bangsa Melanesia. Harusnya kita sadarkan mereka kalau memaksa merdeka, orang asli Papua bisa bernasib sama seperti suku aborigin di Australia ini. Lihat saja itu Timor Leste, sekarang tidak berkutik saat bersengketa dengan Australia soal pengelolaan kekayaan alam laut di Timor.”

“Kalaupun kita kasih tahu, mereka juga tidak akan mau tahu. Mereka yang terlanjur pro merdeka sudah malas tahu. Satu-satunya jalan supaya orang asli papua bisa terpupuk rasa nasionalismenya ya melalui bunyi sila ketiga, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Pendekatan ekonomi melalui pemerataan pembangunan adalah kuncinya, itu” Iqbal menudingkan tangannya dengan jari menelunjuk ala Mario Teguh di televisi.

“Itu yang sedang pemerintah kita lakukan sekarang. Tapi aku itu tidak habis pikir, niat baik pemerintah itu sudah bagus tapi apa apresiasinya. Pahlawan pembangunann ditembak, pahlawan pendidikan ditembak. Mereka maunya apa? Harusnya pemerintah bikin operasi tinambola semacam di Poso untuk menangkap para separatis yang lebih pantas kita sebut teroris.”

“Tidak semudah itu Mal, Papua itu jadi sorotan dunia. Selain itu, sekarang ini perjuangan kaum separatis itu mulai beralih dari perlawanan menggunakan senjata menjadi perlawanan melalui politik. Orang-orang OPM di Finlandia,  Inggris, Belanda, Australia, sampai di negara-negara kecil anggota MSG seperti Fiji dan Salomon. Salah-salah TNI-Polri bertindak, orang-orang OPM di luar negeri ini bisa menuduh pemerintah Indonesia melakukan pelanggaran HAM di Papua, padahal maksudnya baik, menumpas sparatis.”

“Jadi sparatis di Papua itu menurut kamu propoganda saja, supaya TNI-Polri terpancing, melakukan operasi dengan kekerasan, lalu di panggung internasional OPM bisa teriak-teriak HAM sebagai bahan untuk menyudutkan perintah Indonesia. Begitu?”

“Itu problem utamanya sekarang Mal..”

“Gejolak Politik di Papua memang perkara yang rumit ya Bal”

“Sudah kubilang dari awal, kamana aja kamu..”

“Tidak ada salahnya kan sesekali aku berlagak seperti wartawan yang super kepo dan selalu ingin tahu..” Akmal berkilah lalu terbahak. Jabal juga ikut terawa tapi tidak sampai terbahak.

Setelah perdebatan berakhir, sebelum menuju kasir untuk mebayar buku yang akan Jabal beli. Akmal yang tidak membeli buku apa-apa dan hanya duduk-duduk di pinggiran rak sambil membaca-baca sebuah teenlite bertema cinta khas anak remaja yang sudah terbuka plastiknya sengaja dibuat kaget secara tiba-tiba. Jabal menghampiri Akmal dari belakang “Mal, seperti banyak konflik dalam novel-novel cinta yang sering kamu baca itu. Bukankah kecemburuan dan sakit hati itu hanya bisa dirasai oleh orang yang mencintai, bukan oleh orang yang dicintai. Maka dalam posisi ini tadi, Papua adalah yang mencintai, dan Jawa adalah yang dicintai. Tapi nahasnya, Jawa bukannya balik mencintai, malah mengakhianati, malah bikin Papua sakit hati.”

“Maksud kamu? Jangan mulai perdebatan lagi deh. Kita sudah sepakat tadi” Akmal sudah lelah untuk diajak beradu argumen lagi.

“Akmal, maaf kalau tadi kata-kataku terlalu keras, masalah Papua adalah perkara yang sensitif buat aku. Sudah setengah abat lebih kekayaan alam Papua dikeruk untuk membangun Jawa. Tapi masyarakat Papua dibiarkan miskin dan tertinggal. Adilkah? Melihat fakta ini, nuraniku benar-benar terketuk Mal. Tapi semua masalah di Papua itu biarkanlah menjadi masalalu. Belum terlambat untuk berbenah. Masih ada kesempatan kedua. Asal! Yang dicintai mau berubah dan yang mencintai mau memaafkan, selesai masalah.”

“Adalah tugas kamu juga Bal, orang Jawa yang tumbuh besar di Tanah Papua. Adalah tanggung jawab kamu untuk memajukan negara kita Indonesia tercinta ini dari Tanah Papua. Aku pasti bantu kamu, kalau nanti setelah lulus kamu jadi neraktir aku untuk tinggal di sana. Okeh?”

“Hahaha.. Oke.. Okee.. Sipp deh pokoknya.” Mendengar tawaran itu Jabal girang bukan kepalang, sampai tanpa sadar ia menjawab pernyataan Akmal dengan gaya Akmal yang selalu latah bilang oke dan oke. (Ali Ridwan, 10/10/16)

Kamis, 03 November 2016

Tiga Anak Singa HOS Cokroaminoto

 
Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, ia lahir di Tegalsari, Ponorogo. Anak pejabat pemerintah Ponorogo, cucu dari bupati Ponorogo RM Adipato Cokronegoro. Seperti kita kerahui bahwa Tjokroaminoto yang bergelar Raja Jawa Tanpa Mahkota ini adalah guru dari tiga tokoh besar bapak pendiri bangsa dari negara kita, Indonesia. Pertama Soekarno (Nasionalis), kedua Musso (Komunis), dan yang ketiga Kartosuwiryo (Agamis). Ketiganya, pada masa perjuangan sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Walau pada akhirnya, setelah negara berdiri perang ideologi jadi tak terelakkan lagi.

Pertama Soekarno, presiden pertama Indonesia, mengkampanyaken ideologi nasionalismenya lewat partai PNI (Partai Nasional Indonesia). Kedua Musso menyebarkan ideologi komunisnya lewat PKI (Partai Komunis Indonesia). Kemudian Kartosuwiryo yang menebarkan faham radikalnya lewat partai warisan gurunya di Sarekat Islam, PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia. Dimana saat gesekan ketiganya sempat terjadi sampai sedemikian gentingnya hingga Soekarno berinisiatif menyatukan ketiga ideologi itu menjadi NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis), tapi gagal.

Dr, Ir, H, Soekarno atau Koesno Sosrodihardjo, lahir di Surabaya dan bertemu dengan Kartosuwiryo saat tinggal satu kost di rumah gurunya HOS Tjokroaminoto di Surabaya. Kenal dengan Musso juga saat sama-sama sedang menimba ilmu di HBS. Kelak, Soekarno sendiri yang akhirnya “membunuh” kedua sahabatnya itu. Musso tewas di Ponorogo oleh pasukan TNI dari Devisi Siliwangi lalu jasadanya dibakar secara diam-diam, sementara Kartosuwiryo ditembak mati di Kepulauan Seribu kemudian jasadnya dimandikan pakai air laut lalu dikubur tanpa nisan setelah berita acara hukuman mati ditatandatangani oleh sahabat dekatnya masa sekolah dulu, Soekarno.

 Musso atau Paul Mossotte, yang waktu kecil bernama Muso Manowar itu lahir di Kediri. Semenjak negara ini berdiri pada 1945, tercatat Partai Komunis yang digawanginya sudah dua kali memberontak pada negara. Pemberontakan pertama di Madiun dan menewaskan dirinya sendiri. Pemberontakan kedua lewat penerusnya di G30S/PKI (entah ini benar atau hanya rekayasa Soeharto dan CIA yang berkepentingan untuk menggulingkan Soekarno) tapi yang jelas sejak saat itu PKI berhasil dipatahkan oleh kaum Nasionalis (TNI), dimana sampai saat ini PKI masih menjadi ideologi terlarang di negeri ini. 

Kartosuwiryo atau Sukarmadji Maridjan Kartosuwiryo lahir di Cepu, Jawa Tengah. Setelah berjuang bersama melawan agresi-agresi militer Belanda dan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Kartosuwiryo sempat dirwari untuk menjadi menteri apa saja asal jangan menteri pertahanan dan mentreri dalam negeri, tapi Kartosuwiryo menolak dengan alasan ia tidak mau jadi menteri kalau dasar negaranya bukan negara islam. Hingga akhirnya memproklamirkan NII (Negara Islam Indonesia) kemudian memberontak pada negara lewat DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Tapi lagi-lagi pemberontakannya gagal dan Kartosuwiryo ditangkap.

Perlu digarisbawahi, meski Kartosuwiryo sudah dihukum mati, tapi faham  islam radikal yang diperjuangkannya belumlah mati. Beda dengan PKI yang sudah dua kali melakukan pemberontakan dan sudah diblacklist oleh negara, NII baru sekali memberontak dan masih ada potensi untuk melakukan pemberontakan keduanya. Apapun itu, Indonesia tetaplah Indonesia. Kultur dan budaya tuan rumah tetap akan jadi  landasan hidup bagi masyarakatnya. Masyarakat Indonesia yang ramah tamah, sopan santun, gotong royong, dan musyawarah.

Dilihat dari kemenangan Soekarno dalam pertarungan tiga anak macan ini, sebetulnya bukanlah pertarungan Soekarno seorang sendiri. Soekarno menang karena berfikiran luas.

Seokarno adalah seorang Sosialis dan Seorang Marxis (yang kemudian dipelesetkan jadi Marhaenis), ideolagi yang sealiran dengan komunis. Jadi, Soekarno seorang Sosialis tapi bukan komunis. Soekarno juga seorang agamis, kedekatanya dengan H Agus Salim yang ahli sufi dan pengamal thoreqoh. Soekarno adalah seorang agamis dan belajar islam langsung pada intinya, itu kenapa Soekarno berkata “Kalau belajar islam jangan ambil abunya, tapi ambi apinya.” Atau boleh diartikan, pahami hakekatnya supaya mengerti syareatnya, sebab orang paham hakekat sudah pasti akan bersyareat, tapi orang paham syareat belum tentu bisa mengerti hakekat. Sedangkan tingkatan iman dalam islam sendiri ada empat. Syareat, Tarekat, Hakekat, kemudian Makrifat.

Soekarno menjiwai ketiga faham ideologi itu, selain daripada itu berkat pengasingannya di NTT, Sumatera, dan Sulawesi soekarno sangat menjiwai Keindonesiaan kita. Hingga lahirlah pancasila dan Nasakom. Walau gagasan nasionalis yang paling berhasil adalah Pancasila.

Sekarang yang perlu diwaspadai adalah generasi penerus dari kelompok radikal yang ingin melanjutkan perjuangan Kartosuwiryo, perjuangan membentuk negara islam dan mendirikan negara khalifah. Jelas dan tandas saya menunjuk dua ormas radikal yang  terang-terangan ingin mengganti ideologi negara, ialah FPI dan HTI yang dalam beberapa kesempatan berani menentang Pancasila. Itu kenapa jelang aksi demo damai 4 November Presiden hanya mengundang Muhammadiyah, PBNU, dan MUI. Karena hanya ketiga organisasi islam terbesar di Indonesia itu yang selain agamis juga berjiwa nasionalis.

Aksi damai membela Al Qur’an itu tidak salah dan tidak perlu dikhawatirkan, yang salah dan perlu dikhawatirkan adalah bila aksi itu disusupi kepentingan-kepentingan lain dari kelompok-kelompok tertentu yang ingin memecah belah bangsa. Siapa yang berpotensi menyusupi kemarahan umat yang terprovokasi itu? Pertama jelas, Ormas radikal yang ingin mendirikan negara islam, kedua orang-orang yang punya kepentingan politik di Jakarta, dan yang ketiga jelas adalah cukong-cukong dan mafia-mafia yang selama gubernur patahan berkuasa pemasukannya jadi berkurang dan ruang geraknya jadi terbatas.

Aksi bela Al Qur’an sah-sah saja. Bela agama apalagi, wajib hukumnya. Tapi terprovokasi? Nanti dulu!! Kalau PBNU dan Muhammadiyah saja bersikap bijak, kenapa kita harus kekana-kanakan. Percayakan pada pemerintah, biarkan proses hukum berjalan, dan tetap jaga persatuan dan kesatuan. NKRI harga mati, Pancasila tak bisa ditawar lagi, Bhineka Tunggal Ika harus kita mantapkan di dalam hati sanubari. Semangat menjaga negeri dari ancaman perpecahan dan kekacauan yang merugikan. Ingat negara ini sedang gencar-encarnya membangun dari pinggiran, ekonomi tumbuh saat ekonomi global melemah, negara damai adem ayem saat Rusia dan Amerika berseteru di Timur Tengah, dan saat China gencar memprovokasi dunia lewat klaimnya di Laut China Selatan.

Islam di Indonesia adalam islam yang Rohmatal Lil Lamin, Rahmat bagi yang islam dan yang non islam, rahmat bagi yang pribumi dan non pribumi, rahmat bagi Indonesia dan dunia. Bukankan begitu juga Allah, ia merahmati semua makhluknya baik yang taqwa ataupun yang ingkar, baik yang iman ataupun yang kafir, baik yang taat atapun yang kufur. Begitu pula seharusnya manusia yang beragama dan bertuhan, ia harus bisa menjadi rahmat bagi sesamanya, lingkungannya, dan juga bangsa dan negaranya. (Ali Ridwan, 04/11/2016)

Selasa, 01 November 2016

Ketika Fanatisme Sempit Agama Termakan Hasutan Politik

 
Sejak dahulu sekali, agama memang salah satu alat yang paling moncer untuk memobilisasi masa. Pertama, saat Raden Fatah menggawangi kaum muslim untuk menggulingkan ayahandanya dari singgasana Majapahit yang memang sudah di ujung tanduk karena praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme di internal kerajaan. Kedua, ketika Pangeran Diponegoro mengobarkan semangat para laskar muslim untuk memerangi Belanda dalam Perang Jawa, perang yang membuat VOC nyaris bangkrut. Ketiga, saat Mbah Hasyim Ashari mengeluarkan fatwa bahwa bela negara untuk mempertahankan kemerdekaan adalah wajib hukumnya.

Terakhir adalah propoganda Orde Baru terhadap PKI dimana kaum nasionalis dan agamis bahu-membahu membantai tiga juta lebih simpatisan partai komunis yang kebanyakan tidak mengerti komunis itu apa? Fakta-fakta inilah yang kemudian coba digaungkan kembali dalam perpolitkan modern tanah air saat ini.

Masalahnya, sekarang ini kita hidup di zaman akhir, zaman yang serba terbolak balik alias wolak-walike ing jaman dimana “Sudah tidak ada lagi setan bodoh yang menentang Tuhan dan Al Qur’an, yang banyak sekarang adalah setan berpenampilan nabi dan bermulut Al Qur’an” (Emha Ainun Nadjib). Contohnya adalah iblis hitam dari Suriah alias ISIS, kelompok ini pakai simbol-simbol islam dan syareatnya tapi tujuannya jelas, adalah untuk menghancurkan islam itu sendiri.

Pada kasus Raden Fatah, Pangeran Diponegoro, dan Mbah Hasyim Ashyari boleh dikatakan adalah zaman dimana setan masih bodoh, sehingga perangainya mudah sekali ditebak. Tapi saat setan mulai pintar, saat setan memulai kejeniusannya lewat propoganda CIA yang sukses membenturkan islam di Indonesia dengan kaum komunis, dan negara liberal seperti Amerika akhirnya bisa terbahak karena sukses mendapat untung besar dari adu domba anak negeri ini, dimana salah satunya ialah jatuhnya gunung emas di Papua ke tangan Freeport.

Sukses Amerika ini karena USA mau belajar dari pengalaman Belanda dalam melemahkan perlawanan Indonesia selama tiga setengah abad dengan mengotak-ngotakkan islam di nusantara, seperti adanya islam kaum abangan, islam kaum putihan, dan juga islam kaum kejawen.

Mari belajar dari pengalaman sejarah. Kita jangan mau dipecah belah! Waspadai setan berwujud siluman. Mengaku teman seiman tapi senangnya memprovokasi kemarahan, senang mendatangkan melapetaka dengan kekacauan.

Jangan karena fanatisme sempit agama kita jadi mudah terhasut propoganda politik! Ingatlah pesan Bung Karno untuk kita sebagai warga Indonesia “Kalau jadi Hindu jangan jadi Orang India, Kalau jadi Islam jangan jadi Orang arab, Kalau jadi Kristen jangan jadi Orang Yahudi. Tetaplah Jadi Orang Nusantara Dengan Adat-Budaya Nusantara Yang Kaya Raya ini!!” Ingatlah, islam menjadi besar di Nusantara ini melalui pendekatan kultur budaya, bukan dengan kebencian dan kekerasan apalagi menggunakan cara-cara preman kampungan.

Mari jadilah bagian dari orang-orang yang menyejukkan, orang-orang yang mau berfikir dengan jernih, serta orang-orang yang mau bersikap dengan bijak. Ingatlah pula petuah Gus Dur “Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca Al Qur’an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Al Quran. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah". Maka jelas, siapa yang mengingkari adanya perbedaan dari kemajemukan sama artinya ia telah mengingkari Tuhannya. (Ali Ridwan, 01/11/16)